Ujian Nasional (lagi)

Ujian Nasional

Ujian Nasional

Hajatan nasional setelah pencontrengan adalah hajatan bagi adik-adik SMA/SMP khususnya kelas 3, yaitu Ujian Nasional (UN). Pembuktian sekolah bertahun-tahun dalam waktu 4 – 5 hari ujian. Aneh memang, tapi karena sudah menjadi ‘proyek’ bersama, ya harus diamini.

Ujian Nasional (UN) menjadi sebuah hajatan yang membuat sibuk pihak sekolah dan membuat stress para calon peserta. Hal ini menjadi sebuah kewajaran karena semuanya dipertaruhkan dalam beberapa hari saja. Kalau dipikir dengan cara sederhana dan logis, menentukan kelulusan dengan embel-embel prestasi dalam waktu beberapa hari sungguh kurang masuk diakal. Ibarat orang berpacaran memutuskan untuk menikah juga perlu sebuah proses yang bervariasi, tapi menentukan kawin dalam waktu 4 – 5 hari itu sebuah keputusan yang bernyali. Mana lebih penting mana proses atau hasil. Logikanya hasilnya adalah efek samping dari sebuah proses. Kita menjadi pinter karena ada sebuah proses yang membuat kita menjadi seperti itu. UN lebih tepat digunakan untuk memetakan kondisi pendidikan, tapi menyamaratakan kemampuan juga bukan sebuah hal yang bijaksana.

Karena lulus UN adalah sebuah target utama agar bisa melanjutkan ke jenjang selanjutnya, apapun dilakukan agar anak didik dapat lulus (atau sekedar lulus), akan ini sebuah pertaruhan sekolah dan siswanya. Berbuat curang adalah sebuah usaha untuk ‘memenangkan’ pertaruhan ini. Dari yang dilakukan secara halus, sistematis sampai kasar plus nekat. Kondisi seperti ini pernah aku lihat langsung bagaimana pihak sekolah sudah berbagi peran dalam membantu anak didiknya lulus. Kebetulan untuk yang ketiga kalinya aku menjadi satpam atau Tim Pemantau Independen (TPI) ujian nasional. Untuk sekolah yang masuk kategori favorit dengan manajemen yang baik, persiapan dan penyelenggaraan UN dapat dilaksanakan dengan rapi dan lancar. Semua aspek dipersiapkan, bahkan sampai memutuskan tidak beralas kaki selama ujian berlangsung agar suara sepatu tidak mengganggu para peserta ujian. Hal ini bisa menjadi sebaliknya jika pihak sekolah tidak mempersiapkan diri dengan baik, sehingga mereka lebih berfokus bagaimana mendistribusikan jawaban untuk membantu para peserta ujian dan tidak ketahuan oleh TPI.

Penyelenggaraaan dari tahun ke tahun memang mengalami peningkatan terutama dalam mengantisipasi kecurangan mulai proses pendistribusian dari rayon ke sekolah, proses ujian sampai pengumpulan hasil ujian ke rayon. Dari sisi pengawasan, kalau tahun lalu pihak pemantau/pengawas independen tidak berhak masuk ke ruang ujian jika terjadi kecurangan, tahun ini dimungkinkan asal berkoordinasi dengan pengawas kelas.

Tapi apapun metode atau prosedur UN tetap aja sejatinya melukai para pelaku pendidikan. Kalau ditanya satu per satu para ahli pendidikan sebagian besar akan berpendapat UN ini hanya menambah runyamnya sistem pendidikan kita, disisi lain memang akan lebih mudah membuat pemetaan bidang pendidikan. Walau ada sebuah angin segar bahwa mulai tahun 2012, hasil UN bisa menjadi prasyarat untuk mendaftar

Number of View :3617

Popularity: 4% [?]

Comments

comments

Comments

  1. fachri says:

    ayo didik anak-anak Indonesia untuk tidak bermental pecundang…!

  2. Ndoro Seten says:

    yo semoga semua adik-adik kita sukses dalam menempuh ujian tersebut yo….

  3. Dilewati saja prosesnya :)

    Semoga saja sistem pendidikan kita lebih baik lagi.

  4. achoey says:

    UN
    ada dagelan di sana
    UN
    ada kejujuran di sana
    UN
    ada kecemburuaan di sana
    :)

  5. Kalau masalah UJIAN, coba perhatikan kembali pada saat proses TEST PENERIMAAN SISWA BARU. Sekolah yang mengadakan test bertujuan mendapatkan siswa yang memiliki kemampuan cukup tinggi, ber-IQ di atas rata-rata, dan Sekolah tersebut akan tetap menjadi sekolah favorite yang meluluskan alumni-alumni yang terbaik. Jadi pada saat ini yang memiliki kualitas dalam pendidikan, para siswanya atau mutu pendidiknya?

  6. mrpall says:

    didiklah dengan sesuai dan yg seharusnya tapi jangan lupa pendidikan moral…agar moral anak bangsa ini bermoral baik…

  7. geulist133 says:

    ya tetap Kecurangan berlanjut. dan tetap UN dilanjutkan. bagaimana menghentikan kecurangan?
    hentikan saja UNnya, namun bagaimana nasib Bimbel yang berdiri tegak dengan program sukses UN?

  8. guskar says:

    pendidikan negeri ini masih saja mencari jati diri, nggak ketemu2. mestinya kembali saja kepada sistem ki hajar dewantara dulu

  9. suwung says:

    belajar tiga tahun ditentukan 3 hari kasiahan

  10. cantony says:

    pusing saya pak.. mikirin UN mulu….hehehe

  11. antokoe says:

    UN gak jelek, tapi berikan wewenang pada bapak/ibu guru menentukan si anak didik layak lulus. di pendidikan proses lebih penting.

  12. antokoe says:

    pendidikan = bisnis ?

Speak Your Mind

*

CommentLuv badge