Ujian Nasional (lagi)

Ujian Nasional
Hajatan nasional setelah pencontrengan adalah hajatan bagi adik-adik SMA/SMP khususnya kelas 3, yaitu Ujian Nasional (UN). Pembuktian sekolah bertahun-tahun dalam waktu 4 – 5 hari ujian. Aneh memang, tapi karena sudah menjadi ‘proyek’ bersama, ya harus diamini.
Ujian Nasional (UN) menjadi sebuah hajatan yang membuat sibuk pihak sekolah dan membuat stress para calon peserta. Hal ini menjadi sebuah kewajaran karena semuanya dipertaruhkan dalam beberapa hari saja. Kalau dipikir dengan cara sederhana dan logis, menentukan kelulusan dengan embel-embel prestasi dalam waktu beberapa hari sungguh kurang masuk diakal. Ibarat orang berpacaran memutuskan untuk menikah juga perlu sebuah proses yang bervariasi, tapi menentukan kawin dalam waktu 4 – 5 hari itu sebuah keputusan yang bernyali. Mana lebih penting mana proses atau hasil. Logikanya hasilnya adalah efek samping dari sebuah proses. Kita menjadi pinter karena ada sebuah proses yang membuat kita menjadi seperti itu. UN lebih tepat digunakan untuk memetakan kondisi pendidikan, tapi menyamaratakan kemampuan juga bukan sebuah hal yang bijaksana.
Number of View :4717Popularity: 3% [?]
Aku Menemukan Kecurangan UN SMP !
Dua hari sudah aku kembali jadi Tim Pemantau Independen (TPI) Ujian Nasional (UN) SMP. Untuk tahun ini aku mendapatkan pengalaman yang sebenarnya klise untuk urusan ujian-ujian. Kecurangan, ya… kecurangan. Kebetulan aku memantau SMP swasta yang bukan termasuk sekolah ‘unggulan’. Modusnya klasik dan kasar.
Ujian dimulai, panitia sekolah mencari sisa soal (cadangan) yang ada dan dibawa ke ruang khusus selalu tertutup (sebenernya karena ber-AC, pas…kan) untuk dikerjakan oleh guru bidang studi yang bersangkutan. Aku ‘digiring’ oleh panitia lain untuk bergabung dengan kepala sekolah, polisi, reserse di ruang kepala sekolah, yang tentunya jauh dari ruang ujian dan mulailah ngobrol ngalor-ngidul. Aku sebenarnya sudah punya feeling dengan hal ini. Selang 30 menit panitia lain sudah mulai beroperasi menyebarkan sebagian jawaban ke kelas, tentunya dengan modus mengedarkan absen pengawas kelas dan juga lewat penjaga sekolah yang nongkrong dekat toilet. Seperti ada komando, mulailah peserta ujian satu persatu bergantian ke toilet tentunya dengan alasan buang kecil dan disitulah distribusi jawaban. Sesampai dikelas peserta ujian mulai menyebarkan jawaban ke teman-temannya, tentunya pengawas ruangan sudah di-klik oleh panitia sekolah untuk tidak terlalu memperhatikan perilaku peserta ujian, dan mulailah muncul maling-maling karbitan korban proyek UN.
Number of View :9174Popularity: 8% [?]
