Wajah Televisi Kita
Ingat banget waktu dulu stasiun TV cuma ada satu di bumi Nusantara ini. Tiap program, apapun pasti ditunggu kehadirannya. TVRI sebagai stasiun TV satu-satunya, berplat merah pula, menjadi pengisi satu-satunya diruang tamu dari kota sampai pelosok desa. Waktu itu karena listrik belum masuk desa, sumber listrik untuk me-nyetel TV adalah aki (accu) yang gedenya sebesar aki truk.
Number of View :2630Popularity: 3% [?]
Ada Apa dengan Acara TV Indonesia
TV, adalah menjadi bagian dari yang tak terpisahkan dari kehidupan sehari-hari kita. TV adalah hiburan paling murah dan dekat karena disajikan diruang tamu atau ruang keluarga. Semua anggota dapat mengaksesnya termasuk anak kita. Tapi kalau anak kita disuguhi tontonan yang tidak memberikan tuntunan yang baik bagaimana donk. Pindah channel-nya ke TV lain. Masih sama kok (model) acaranya. TV lain gimana. Sama aja. Ya sudah matiian aja TV-nya.
Kesimpulannya, acara TV kita seragam (walau warnanya beda-beda). Pertanyaannya memang SDM stasiun TV itu gak ada yang kreatif? Atau memang kita merupakan bangsa yang latah (katanya sih hanya di Indonesia ada orang latah)?.
Kalau menurutku, pengelola TV itu seperti seorang pedagang, dimana dia hanya menjual barang yang sedang dicari, laris dan dijual kios sebelah. Karena dagangannya kios sebelah laris, maka harus menjual barang dagangan yang sama kalo nggak maka gak dapat duit. Yang celakanya adalah masuk kategori pedagang kaki lima bukan sekelas toko bermerk yang menjual barang dengan kualitas yang baik atau minimal sekelas Factory Outlet. Jadi terkesan seperti pedagang musiman, kalo mau lebaran maka jual barang yang banyak dicari orang untuk berlebaran. Atau pas awal mau masuk sekolah, naka rame-rame jual buku, tas, alat tulis,sepatu, seragam dll (dan lainnya lupa). Setelah masanya habis, mulai melirik toko sebelah, dagangan apa lagi yang laris?.
Sekarang yang menjadi barang dagangan (baca: acara TV) yang laris adalah masih sinetron diperingkat pertama. Ini adalah mesin uang yang paling handal. Tapi coba tengok sinetron kita, pasti ….
- Striping (tayang tiap hari);
- Pembuatannya asal jadi, lihat aja sering bocor boomer-nya (mik untuk dialog); pemilihan lokasi dan setting yang asal jadi (nama rumah sakit atau nama kafe dibuat mendadak dengan modal stereoform+cat);
- Cerita; nah ini yang paling parah. Tip menonton sinetron kita, lihat sinetron sampai episode 10, liat setelah episode ini, kalo masih cerita masuk akal dan tidak membodohi kita, tonton terus. Nanti cek lagi setelah episode 20;
- Penokohan karakter dalam cerita hampir seragam dan menjual mimpi. Di sinetron kita ORANG BAIK HARUS HIDUP SUSAH, BODOH, LUGU, SENGSARA, MISKIN, DIBOHONGI, DAN …..
- Perhatikan mata tokoh antagonisnya, pasti melotot dan diberi tambahan efek freeze.
- Satu TV diisi produksi sinetron dari satu PH. RCTI oleh Sinemart dr jam 6 sore s.d 11 malam. SCTV oleh MD Entertainment di jam yang sama. Indosiar oleh PT. Gentabuana dll. Dari sisi PH ada untungnya karena sinetron mereka gak bersaing dengan sinetron sendiri di TV lain pada jam yang sama.
- Kalo laris walau ceritanya amburadul maka dipanjang-panjangin episodenya.
- dll
Yang paling up-to-date adalah teguran kepada Indosiar (Supermama, Mamamia, Stardut) dan TPI (Dangdut Mania) tentang acara pencarian penyanyi oleh Komisi Penyiaran Indonesia (KPI). Ditambah teguran ke host acara Ruben dan Ivan Gunawan. Acara ini sebenarnya bagus tapi menjadi tidak terkendali karena tidak mempunyai konsep yang baku diawalnya, sehingga pada perkembanganya karena menarik maka dibuat improvisasi tapi berlebihan. Bahkan durasinya sampai 7 jam (pertama di dunia dan pelopornya Indosiar).
KPI jangan hanya acara ini saja yang ditegur, tapi PH pembuat sinetron-sinetron juga boleh (harus) ditegur + TV yang menayangkan. Biar sinetron kita maju.
Tapi kalau mau maju acara TV kita, kita sebagai penonton juga harus maju dan kritis jangan mau diberi tontonan sampah artinya kalau dirasa jelex jangan ditonton.
Do you have comment for Indonesian TV program?.
Number of View :11082
Popularity: 9% [?]
