<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>antokoe dot com &#187; myspace</title>
	<atom:link href="http://antokoe.com/tag/myspace/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://antokoe.com</link>
	<description>Catatan Langkah Pikiran&#8482;</description>
	<lastBuildDate>Mon, 02 Jan 2012 02:00:17 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.3.1</generator>
		<item>
		<title>Makhluk itu Bernama Jejaring Sosial</title>
		<link>http://antokoe.com/makhluk-itu-bernama-jejaring-sosial/</link>
		<comments>http://antokoe.com/makhluk-itu-bernama-jejaring-sosial/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 17 Feb 2010 05:07:11 +0000</pubDate>
		<dc:creator>antokoe™</dc:creator>
				<category><![CDATA[Internet]]></category>
		<category><![CDATA[Pendidikan]]></category>
		<category><![CDATA[Renungan]]></category>
		<category><![CDATA[facebook]]></category>
		<category><![CDATA[jejaring sosial]]></category>
		<category><![CDATA[kasus facebook]]></category>
		<category><![CDATA[myspace]]></category>
		<category><![CDATA[twitter]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://antokoe.com/?p=450</guid>
		<description><![CDATA[Makhluk ini tak berbentuk fisik dan tak menyeramkan tapi akhir-akhir ini menjadi sosok yang bagi sebagian orang menyeramkan. Jejaring sosial adalah bentuk perwujudan dari konsep membangun komunikasi tanpa memandang apa dan dimana pelakunya berada. Sebenarnya konsep ini sudah ada sejak lama, tapi menjadi booming beberapa tahun terakhir. Manusia dimanjakan oleh produk teknologi komunikasi yang meminimalkan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">
<div id="attachment_454" class="wp-caption alignleft" style="width: 206px"><a href="http://antokoe.com/wp-content/uploads/2010/02/facebook_logo2.png"><img class="size-medium wp-image-454" title="facebook_logo2" src="http://antokoe.com/wp-content/uploads/2010/02/facebook_logo2-300x300.png" alt="" width="196" height="196" /></a><p class="wp-caption-text">Facebook</p></div>
<p style="text-align: justify;">Makhluk ini tak berbentuk fisik dan tak menyeramkan tapi akhir-akhir ini menjadi sosok yang bagi sebagian orang menyeramkan. Jejaring sosial adalah bentuk perwujudan dari konsep membangun komunikasi tanpa memandang apa dan dimana pelakunya berada. Sebenarnya konsep ini sudah ada sejak lama, tapi menjadi booming beberapa tahun terakhir. Manusia dimanjakan oleh produk teknologi komunikasi yang meminimalkan interaksi secara langsung sehingga konsep agung <span style="color: #ff0000;">silaturahmi</span> mulai terkikis oleh sifat instan dan praktis.</p>
<p style="text-align: justify;"><span id="more-450"></span>Makhluk beridentitas Friendster, MySpace, Twitter dan Facebook menjadi teman akrab para jamaah online sehingga banyak menyita waktu efektif setiap harinya. Setidaknya ritualitasnya bertambah seperti yang tuturkan oleh penyanyi rap mutakhir Saykoji lewat lagunya Online. Situasi ini tentunya diendors secara tidak langsung para produsen alat komunikasi (baca:telepon gengam) dan provinder penyedia jaringan komunikasi (operator). Perilaku berubah seiring bagaimana manusia membangun komunikasi dan memaknai komunikasi.</p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;">Jejaring sosial bisa sangat membantu para pelaku sosialita tapi bisa sangat mengganggu atau malah menakutkan. Jika diajukan pertanyaan &#8220;Kenapa sih ikut Facebook-an?&#8221;. Yang muncul adalah jawaban standar, jarang menjawab begini &#8220;Saya kan pengin eksis dan narsis!&#8221;. Popularitas sebuah jejaring sosial seperti Facebook (FB) mendorong orang untuk bergabung mulai dari anak SD sampai ibu-ibu. Setiap popularitas selalu bermata dua positif dan negatif. Tidak heran popularitas FB mendorong para jamaahnya untuk membangun komunikasi lebih intens dibanding sebelumnya seperti makin banyaknya acara reuni lintas masa. Sisi lain memberikan lahan baru bagi para penikmat nakal untuk mendapatkan mangsanya.Positif apa negatif tergantung pelaku membawa arah yang diinginkan. Pada hakekat teknologi dihadirkan untuk melengkapi kekurangan manusia atau membantu manusia dalam beraktifitas sedangkan efek adalah bentuk keluaran yang sering dipengaruh mindset manusia itu sendiri.</p>
<p style="text-align: justify;">Kasus penyalahgunaan FB hari terakhir cukup meresahkan para orang tua yang mempunyai putra/putri tanggung umur. Menurut Komnas Anak, ada 1000 lebih laporan penyalahgunaan FB dan rata-rata terjadi diranah remaja sampai dewasa. Kemudahan dan kebebasan jejaring sosial sering mengesamping kontrol, jadi tidak heran jika terjadi pelecehan, penghinaan, pencemaran nama baik terjadi diranah jejaring sosial. Kondisi ini mengingatkan kembali wacana fatwa haram untuk FB. Fatwa mungkin tidak perlu dikeluarkan tapi memberikan informasi dan mengingatkan rambu-rambu yang perlu diperhatikan.</p>
<p style="text-align: justify;">Terakhir jadi ingat, seorang ibu datang ke tempat kerjaku bilang, &#8220;<em><strong>Mas bisa ajari saya Facebook?&#8221;</strong></em>. Kemudian ibu itu saya ajarin dasar-dasar pengoperasian internet, sampai pada pembuatan email dan cara menggunakannya. Kemudian,&#8221;<em><strong>Mas sekarang ajari saya Facebook?</strong></em>&#8220;. Dengan sabar saya menuntun ibu mulai membuat akun FB, sampai pada tahap mencari teman. &#8220;<em><strong>Anak ibu punya Facebook?&#8221;</strong></em>. Ibu menjawab, &#8220;<em><strong>Ada mas!&#8221;</strong></em>. Saya mulai mengajarkan bagaimana mencari teman yang mungkin dikenalnya. Ketemulah akun anak ibu ini dan menambahkan dalam daftar teman. Kebetulan sang anak sedang online, permintaan teman langsung di-<em>approve</em>. &#8220;<strong><em>Mas gimana cara saya bisa chatting dengan anak saya?&#8221;</em></strong>. <strong><em>&#8220;Begini&#8230;&#8221;.</em></strong> Dan tak lama sang ibu dan anak mulai berkomunikasi via FB. <em><strong>&#8220;Kamu dimana nak?&#8221;</strong></em>, itulah kalimat percakapan si ibu dengan anak, kemudian diteruskan dengan <em><strong>&#8220;Kamu sudah makan?&#8221;</strong></em>. Si anak malah balik nanya <em><strong>&#8220;Mama ngapain sih ikut-ikutan main Facebook?&#8221;. </strong></em></p>
<p style="text-align: justify;">Sebelum kursus singkat itu berakhir, saya menanyakan kepada si Ibu, <em><strong>&#8220;Kenapa bu kok ibu pengin diajarin  Facebook?&#8221;</strong></em>. Jawaban standarnya, &#8220;<strong><em>kepengin mas, teman-teman saya sudah punya Facebook&#8221;</em></strong>. Si ibu melanjutkan jawaban, <em><strong>&#8220;Sebenarnya saya pengin mantau anak-anak saya yang menginjak remaja secara tidak langsung&#8221;</strong></em>. Jawaban yang cukup bijaksana, pikir saya. Ini <em>true story,</em> &#8220;<strong><em>hallo ibu Ita, salam buat anak-anak ibu yang cantik&#8221;.</em></strong></p>
<p style="text-align: justify;">
Number of View :10884<img src="http://antokoe.com/?ak_action=api_record_view&id=450&type=feed" alt="" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://antokoe.com/makhluk-itu-bernama-jejaring-sosial/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>37</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

