Generasi "Copy – Paste"

Sering kita dengar, mental tempe, otak tempe, sampai orek tempe. Pasti pernah dengar juga istilah generasi tempe. Kenapa muncul istilah itu ?. Semua bangsa di dunia ini tahu, tempe itu berasal dari Indonesia dan asli Indonesia, walaupun negara tetangga sebelah sudah atau mau mematenkan tempe.

Copy PasteEra 90an, muncul istilah generasi foto copy. Karena malas nyatat, ya…foto copy catatan teman dan itu jamak bagi mahasiswa, sebab apa ?, dosen gak pernah meriksa catatan mahasiswanya gak seperti anak SD/SMP/SMA. Tapi ada alasan kenapa sudah foto copy kok nilainya tetap jeblok, “lebih enak baca catatan sendiri”. Lho …?. Generasi foto copy masih berlaku sampai sekarang, dan masih menjadi andalan mahasiswa yang malas nyatat, atau dosen males nyatat atau malas beli buku, karena kantong cekak.

Yang paling mutakhir adalah generasi Copy-Paste. Ini tidak ada hubungan dengan malas nyatat materi kuliah tapi berhubungan dengan tugas. Alasan lebih praktis, karena gak perlu ngarang (survei membuktikan, pelajaran ngarang adalah pelajaran non favorit, kecuali ngarang alasan kenapa telat masuk kuliah), plus malas ngetik. Dengan improvisasi sedikit maka hasilnya sempurna. Dan kebetulan dosen kurang gaul dengan komputer, maka makin sempurnalah tugas plus nilainya. Perkembangan teknologi komputer memang membawa efek yang kontrakdiktif, satu sisi nilai kemudahan, kepraktisan dan kesempurnaan hasil, disisi lain penyelewengan mudah dilakukan.

Budaya copy-paste bukan hanya pada taraf tugas-tugas kuliah misalnya, bahkan sudah sampai pada tingkat pembuatan laporan ilmiah seperti tugas akhir atau skripsi. Budaya copy-paste juga berlaku di ranah Blogger. Tidak sedikit blogger yang malas posting tulisan sendiri, tapi mencomot isi blog lain tanpa menyebutkan sumber, seolah-olah karya sendiri. Sah-sah saja sih, tapi blog juga karya cipta.

Sampai kapan budaya copy-paste bertahan ?, sampai semua menyadari bahwa kita punya kemampuan yang tidak kalah dengan orang lain bahkan lebih, bahwa kita harus menghargai diri sendiri, dan orang lain juga harus dihargai karya dan kerja kerasnya. Sebenarnya budaya ini masih belum seberapa dibanding pembajakan perangkat lunak, negara kita masuk top five didunia. Pembajakan juga mempunyai nilai kontradiktif tergantung dari sisi mana melihat. Dari sisi produsen (sisi ekonomis), pasti sebuah kerugian. Dari sisi memasyarakatan perangkat lunak, sangat menguntungkan karena harga murah dan banyak orang memakai (baca:beli). Banyak contoh sebuah produk terlalu diproteksi, biasanya produk itu tidak akan bertahan lama dipasaran. Tapi walau bagaimana, menghargai karya orang lain merupakan bentuk perhargaan diri sendiri.

Hasil dari budaya copy-paste, ya… jadi generasi copy-paste, bloger copy-paste, sarjana copy-paste tapi yang paling enak dan segar adalah Kopi Late’. Silakan posting ini di copy-paste kalau pantas di copy-paste.

number of view: 1194

Popularity: 4% [?]

Share and Enjoy:
  • Print
  • Digg
  • Sphinn
  • del.icio.us
  • Facebook
  • Mixx
  • Google Bookmarks
  • Blogplay

About antokoe

Comments

  1. indra1082 says:

    Enak lagi kopi morning, sama kopi break
    memang kalau hal mudah dan menguntungkan (bagi diri sendiri rugi buat orang) itu jadi budaya dan laris manis….

  2. theloebizz says:

    betuuuullll…..

    *meskipun sy jg doyan copi-pes*
    tp sy paling anti copi-pes pas ujian…
    yaiyalaaah itu sama aja dgn bikin gol bunuh diri :mrgreen:

  3. Gelandangan says:

    yah itulah cermin Negara Kita mas dan tidak bisa dipungkiri bahwa Mereka lah yah membuat dirinya kurang wawasan dengan Generasi Copy Paste

Speak Your Mind

*

CommentLuv Enabled

Switch to our mobile site