Lebaran tahun ini lebih semarak. Bisa mudik ke kampung halaman dengan lancar, bersilaturahmi dengan orang tua dan sanak kerabat. Alhamdulillah, atas perlindungan-Mu, ya Allah, kami dapat kembali lagi ke pinggiran ibukota, untuk bergelut dengan urusan yang tidak pernah usai.
Lebaran lebih semarak, itu yang dirasakan. Bukan orang tua atau sanak kerabat yang menyambut kedatangan di kampung halaman, tapi wajah-wajah penuh arti menyambut sepanjang perjalanan. Wajah-wajah itu berjejer rapi di tepi jalan, dipohon-pohon, diatas jalan raya, spanduk pamflet dan tempat strategis. Wajah penuh harap, ingin dikenal dan diperhatikan, tentunya dengan imbuhan kalimat/kata penuh percaya diri. Itu bentuk eforia demokrasi negeri ini. Wajah-wajah calon pemimpin lokal atau interlokal negeri ini. Mudik tahun depan mungkin wajah-wajah tadi sudah terlena dengan jabatan dan kekuasaan dan biasanya lupa dengan ditulis di spanduk, pamflet, baliho, ……..
number of view: 724Popularity: 3% [?]
Era 90an, muncul istilah generasi foto copy. Karena malas nyatat, ya…foto copy catatan teman dan itu jamak bagi mahasiswa, sebab apa ?, dosen gak pernah meriksa catatan mahasiswanya gak seperti anak SD/SMP/SMA. Tapi ada alasan kenapa sudah foto copy kok nilainya tetap jeblok, “lebih enak baca catatan sendiri”. Lho …?. Generasi foto copy masih berlaku sampai sekarang, dan masih menjadi andalan mahasiswa yang malas nyatat, atau dosen males nyatat atau malas beli buku, karena kantong cekak.




Respon Terbaru