Sekolah Gratis Tapi Kok Mahaaaul!
Sekolah gratis? Dimana itu…?. Boleh juga kalau ada yang kasih tau dimana sekolah ‘gratis’. Jargon sekolah gratis adalah komoditas populer yang dilempar para politisi buat ngrayu pemilih pada pilkada. Maksud ‘gratis’ ini tidak begitu jelas, gratis 100% atau gratis tapi…… Kata tapi merupakan kata yang seharusnya ada setelah kata gratis. Kalau mau gratis yang tanpa syarat.
Number of View :6460Popularity: 7% [?]
Nge-Geng Yuk!
Aku punya kebiasaan mungkin jelek. Aku suka memperhatikan semua tingkah laku yang ada disekitarnya. Bukan untuk apa, tapi itu sebuah kebiasaan yang menurutku asyik, entah kalau orang lain. Ada yang selama ini aku perhatikan dikampusku. Tiap mahasiswa dikampus mempunyai tempat tongkrongan atau kumpul-kumpul masing-masing. Ada yang kalau datang pasti nongkrong dulu di kantin, cerita ngalor-ngidul sambil ngopi (utangan) dan ngisap rokok (minta temen) kesukaannya. Ada yang nongkrong dipojokan, ditangga kampus sampai ada yang ngecengin resepsionis kampus.
Nongkrong, ngumpul apapun namanya sebuah kegiatan yang merupakan implementasi manusia sebagai makhluk sosial. Secara tidak langsung kegiatan itu membentuk sebuah kelompok atau geng (tidak resmi).
Number of View :6824Popularity: 10% [?]
Aku Menemukan Kecurangan UN SMP !
Dua hari sudah aku kembali jadi Tim Pemantau Independen (TPI) Ujian Nasional (UN) SMP. Untuk tahun ini aku mendapatkan pengalaman yang sebenarnya klise untuk urusan ujian-ujian. Kecurangan, ya… kecurangan. Kebetulan aku memantau SMP swasta yang bukan termasuk sekolah ‘unggulan’. Modusnya klasik dan kasar.
Ujian dimulai, panitia sekolah mencari sisa soal (cadangan) yang ada dan dibawa ke ruang khusus selalu tertutup (sebenernya karena ber-AC, pas…kan) untuk dikerjakan oleh guru bidang studi yang bersangkutan. Aku ‘digiring’ oleh panitia lain untuk bergabung dengan kepala sekolah, polisi, reserse di ruang kepala sekolah, yang tentunya jauh dari ruang ujian dan mulailah ngobrol ngalor-ngidul. Aku sebenarnya sudah punya feeling dengan hal ini. Selang 30 menit panitia lain sudah mulai beroperasi menyebarkan sebagian jawaban ke kelas, tentunya dengan modus mengedarkan absen pengawas kelas dan juga lewat penjaga sekolah yang nongkrong dekat toilet. Seperti ada komando, mulailah peserta ujian satu persatu bergantian ke toilet tentunya dengan alasan buang kecil dan disitulah distribusi jawaban. Sesampai dikelas peserta ujian mulai menyebarkan jawaban ke teman-temannya, tentunya pengawas ruangan sudah di-klik oleh panitia sekolah untuk tidak terlalu memperhatikan perilaku peserta ujian, dan mulailah muncul maling-maling karbitan korban proyek UN.
Number of View :9109Popularity: 8% [?]
Kecurangan UAN, Maunya Siswa atau Sekolah?
Selesai sudah, aku menjadi Tim Pemantau Independen (TPI) Ujian Nasional 2008. Ini kali kedua aku jadi TPI. Capek sih nggak, tapi justru ngantuk. Lho kok bisa… Alhamdulillah, sekolah yang aku pantau mempersiapkan dengan baik hajatan nasional ini dan mengikuti aturan yang ada. Jadi 3 hari (22 s.d 24 April 2008) kemarin aku lebih banyak ngantuk, nunggu ujian selesai. Jadi, sepertinya tidak ada kecurangan di sekolah yang aku pantau (mungkin aku gak nemuin kecurangan itu atau aku nggak tau kalo ada yang curang?).
Kalo aku baca dimedia, masih ada yang mencoba berbuat curang. Banyak modusnya, seperti di Gunung Kidul, Jogjakarta, menurut Kompas, kecurangan dengan mengirim jawaban melalui telepon selular. Di Sumatera Utara lebih vulgar lagi, kepala sekolah mengkomandoi guru-guru untuk mengganti jawaban siswa dengan alasan soalnya susah.
sebenernya disinilah permasalahan krusial dari UAN ini. ada perbedaan metode, cara, kemampuan sumber daya guru dalam menyampaikan pelajaran ke siswanya.
bagaimana mau mendapatkan lulusan yang baik kalo kemampuan guru tidak bertambah karena sibuk cari orderan diluaran karena gaji guru seperti sekarang ini?. kemauan untuk belajar kadang kalah dengan kemauan perut. sungguh ironis sekali.
Melakukan kecurangan atau tidak sebenernya menurutku, kemauan dari sekolah itu (baca kepala sekolah). Sebuah kecurangan dilakukan karena sekolah menginginkan, karena didasari beberapa faktor :
- ketidaksiapan sekolah sebagai penyelenggara UAN, dalam mempersiapkan anak didiknya;
- kemampuan dari anak didik sendiri. anak didik berasal dari beberapa latar belakang yang beragam. kalo anak didik itu berasal dari keluarga yang concern dengan pendidikan tentunya akan mendorong anaknya untuk mempersiapkan ujian ini. tapi sebaliknya kalo berasal dari keluarga, dimana keluarga ini harus berjuang banting tulang agar bisa makan, ujian ini bukan yang utama;
- ketakutan pihak sekolah, kalo anak didiknya tidak lulus maka tercorenglah citra sekolah ini dimata orang tua siswa dan lingkungan sekolah;
- dan mungkin masih banyak lagi faktornya;
Indikator sekolah melakukan kecurangan, menurutku selama menjadi TPI :
- berusaha menghalang-halangi terutama TPI dalam melakukan tugasnya. kadang sengaja ditunjuk satu guru/karyawan sekolah untuk membuntuti TPI dan berusaha mengalihkan perhatian agar TPI tidak melakukan sidak ke ruangan.
- dibuat tim khusus oleh sekolah untuk mengerjakan soal-soal diruangan tertentu dan mendistribusikannya melalui tempat-tempat yang sudah ditentukan seperti toilet, kantin, ruang uks dan lain-lain.
- banyak peserta ujian keluar masuk toilet.
- tidak langsung mengepak lembar jawab hasil UAN dan mengirimkan ke rayon dengan alasan yang dibuat-buat.
- kerja sama dengan pengawas ruangan dengan diberikan imbalan tertentu agar tidak terlalu ketat dalam mengawasi ujian.
- secara fisik dokumen soal cacat atau sudah terbuka.
- dan banyak lagi modusnya.
yang lebih ekstrim adalah pihak sekolah berpatungan dengan sekolah lain membeli soal ujian melalui oknum dinas pendidikan, kemudian soal tersebut dikerjakan oleh guru-guru dan didistribusikan sebelum ujian dimulai. siswa disini diperintahkan untuk datang waktu subuh untuk menyalin jawaban yang ada. tentunya biar tidak mencolok jawaban tidak diberikan 100%, tapi sebatas mendapatkan nilai wajar/lulus. apa ini pernah kejadian?. pernah dan tidak tercium aparat, karena pada saat pelaksanaan ujian berjalan mulus tanpa cacat. kebetulan ini terjadi pada temanku waktu mengikuti UAN tahun lalu. dan sekolah tersebut lulus 100%. hebat.
Sebegitu besar beban UAN bagi siswa dan sekolah sehingga apapun dilakukan agar siswanya lulus. Apa salah satu bentuk kemajuan atau kemunduran sistem pendidikan kita?.
Number of View :5983Popularity: 7% [?]
UAN, 3 Hari Untuk Selamanya.
Tanggal 22 s.d 24 April 2008 adalah laga final bagi siswa SMA/SMK, apakah usahanya selama 3 tahun bisa diselesaikan dalam waktu 3 hari?. Ironis. Ya.. cukup ironis. Tapi itulah Indonesia. Entah tujuan dari UAN ini murni untuk membantu pemerintah dalam memetakan keberhasilannya mencerdaskan rakyatnya atau hanya sebuah proyek yang sebenarnya tidak perlu tapi bagaimana agar tetap ada proyek?. Proyek berarti uang. Dan…..
Aku yakin seyakin-yakinnya, di pemerintahan baru nanti (presiden baru, kalau presiden melek dunia pendidikan), Ujian Nasional (UAN) bisa lenyap, tapi bisa juga langgeng bahkan makin kokoh soalnya yaitu tadi PROYEK. UAN adalah tepat untuk situasi pendidikan masyarakat yang sudah mapan dan merata tapi untuk kondisi sekarang belum pas.
Number of View :2305Popularity: 2% [?]
