<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>antokoe dot com &#187; Pendidikan</title>
	<atom:link href="http://antokoe.com/category/pendidikan/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://antokoe.com</link>
	<description>Catatan Langkah Pikiran&#8482;</description>
	<lastBuildDate>Wed, 25 Apr 2012 03:37:19 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.3.2</generator>
		<item>
		<title>antokoe Unexpected Person</title>
		<link>http://antokoe.com/antokoe-unexpected-person/</link>
		<comments>http://antokoe.com/antokoe-unexpected-person/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 28 Oct 2011 04:09:00 +0000</pubDate>
		<dc:creator>antokoe™</dc:creator>
				<category><![CDATA[Hiburan]]></category>
		<category><![CDATA[Love]]></category>
		<category><![CDATA[Pendidikan]]></category>
		<category><![CDATA[ngider]]></category>
		<category><![CDATA[tukang kecap]]></category>
		<category><![CDATA[unexpected person]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://antokoe.com/?p=806</guid>
		<description><![CDATA[Sebentar, judulnya keren banget, sok nginggris, padahal itu juga hasil utak-atik dan bantuan dari Google Translate. Benernya pengin cerita yang menurut saya menggelikan tapi juga bikin getir. Judul semula adalah Tukang Kecap Yang Salah Lapak, tapi kesannya kurang elite padahal komersil sebenernya. Jadi gini ceritanya. Seperti biasa ada aktifitas di hari Kamis, harus ngider di [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Sebentar, judulnya keren banget, sok nginggris, padahal itu juga hasil utak-atik dan bantuan dari Google Translate. Benernya pengin cerita yang menurut saya menggelikan tapi juga bikin getir. Judul semula adalah Tukang Kecap Yang Salah Lapak, tapi kesannya kurang elite padahal komersil sebenernya. Jadi gini ceritanya. Seperti biasa ada aktifitas di hari Kamis, harus ngider di 2 lapak. Seinget saya hari Kamis ini di lapak A, soalnya Kamis lalu di lapak B.</p>
<p style="text-align: justify;"><span id="more-806"></span>Pas sampe lapak benernya sudah ngrasa aneh, kok seperti gak diharapan kehadiran saya, padahal sudah mempersiapkan amunisi dan semangat olimpiade untuk ngider di lapak itu. Pelanggan sih gak protes cuma ekspresinya gak sesuai yang saya harapkan, mungkin gak enak. Dengan pe-de-nya saya menawarkan dagangan saya, segala jurus saya gunakan agar mengesankan pelanggan. Pelanggan sih nanggepin sepertinya baik-baik saja tapi saya ngrasa seperti ada keterpaksaan, tapi karena pelanggan tak protes ya sudah saya lanjutkan menawarkan dagangannya saya ini. Sampai suatu ketika pelanggan ngomong, sebenarnya Kamis ini mengharapkan tukang kecap yang satunya mangkal di lapak ini. Pikir saya, pantesan kok responnya kurang. Saya jadi malu hati tapi sudahlah niat saya adalah melakukan yang seharusnya saya lakukan. O&#8230;ya saya lupa sampein kalau pelanggan tadi ngarepin tukang kecap lain yang menurut informasi rasa kecapnya lebih mengesankan. Ehmmm&#8230;..ada apa dengan rasa kecap saya?.</p>
<p style="text-align: justify;">Memang ada rasa gak enak menjadi tukang kecap yang tidak diharapkan, bahkan sampe kebawa mimpi. Tapi saya pikir besok-besok harus lebih jeli dan lebih &#8220;<em>customer oriented&#8221;</em> kalau perlu mengaplikasikan CRM (<em>Customer Relationship Management</em>). Makasih buat pelanggan saya Kamis ini yang mau menyimak kecapan saya. Dan tak lupa terima kasih kepada CSA, saya akan belajar lagi agar kecap saya lebih mengesankan.</p>
<p style="text-align: justify;">Kecap&#8230;..kecap&#8230;..kecap&#8230;..</p>
Number of View :1835<img src="http://antokoe.com/?ak_action=api_record_view&id=806&type=feed" alt="" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://antokoe.com/antokoe-unexpected-person/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Mau Efisien atau Efektif</title>
		<link>http://antokoe.com/mau-efisien-atau-efektif/</link>
		<comments>http://antokoe.com/mau-efisien-atau-efektif/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 29 Jun 2010 09:34:36 +0000</pubDate>
		<dc:creator>antokoe™</dc:creator>
				<category><![CDATA[Pendidikan]]></category>
		<category><![CDATA[efektif]]></category>
		<category><![CDATA[efisien]]></category>
		<category><![CDATA[efisiensi]]></category>
		<category><![CDATA[manajemen]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://antokoe.com/?p=557</guid>
		<description><![CDATA[Hampir setengah bulan blog ini atau blogger ter-hiatus dengan sendirinya alias tanpa sesuatu yang baru. Otomatis kunjungan blog juga berkurang (sebab lain, kemarin tidak melakukan ritual blogwalking). Maklum blogger culun, kunjungan balik hanya hasil dari silaturahmi ke blog tetangga. Ceritanya posting kali ini mau nulis tentang efisien dan efektif. Dua kata yang sering diucapkan tapi [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">
<div id="attachment_559" class="wp-caption alignleft" style="width: 153px"><a href="http://antokoe.com/wp-content/uploads/2010/06/effectiveness.gif"><img class="size-full wp-image-559" title="effectiveness" src="http://antokoe.com/wp-content/uploads/2010/06/effectiveness.gif" alt="Effectiveness" width="143" height="156" /></a><p class="wp-caption-text">Effectiveness</p></div>
<p style="text-align: justify;">Hampir setengah bulan blog ini atau blogger ter-hiatus dengan sendirinya alias tanpa sesuatu yang baru. Otomatis kunjungan blog juga berkurang (sebab lain, kemarin tidak melakukan ritual blogwalking). Maklum blogger culun, kunjungan balik hanya hasil dari silaturahmi ke blog tetangga.</p>
<p style="text-align: justify;">Ceritanya posting kali ini mau nulis tentang efisien dan efektif. Dua kata yang sering diucapkan tapi kadang maknanya masing-masing memahaminya. Ada sebuah definisi tentang efisien dan efektif yang akan menjelaskan perbedaan diantara keduanya.<span id="more-557"></span></p>
<blockquote>
<div><strong>Effectiveness</strong> :  <em>Doing the right things, or completing activities so that organizational goals are attained.</em></div>
<div>
<p><strong>Effieciency</strong> : <em>Doing things right, or getting the most output from the least amount of Inputs.</em></p>
</div>
</blockquote>
<p style="text-align: justify;">Kalau diterjemahkan secara bebas kira-kira artinya Efektif adalah melakukan dengan tepat atau berusaha melakukan dengan benar sehingga tujuan organisasi tercapai. Sedangkan Efisien adalah melakukan dengan benar atau mendapatkan hasil yang banyak dari masukkan yang sedikit. Dari definisi diatas bahwa efektif lebih berfokus pada waktu penyelesaian sedangkan efisien lebih berfokus bagaimana mendapatkan keuntungan atau dengan kata lain, berkaitan dengan biaya. Dalam pengaplikasiannya, memenuhi dua hal tersebut tidak mudah, bahkan butuh ilmu dan pengalaman yang cukup. Terkadang sesuatu dicapai dengan efektif tapi tidak efisien atau sebaliknya sesuatu dikerjakan secara efisien tapi hasilnya kurang efektif.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Ilustrasi :</strong> saya mau pergi ke Jogja karena ingin efektif saya akan naik pesawat yang hanya memakan waktu 45 &#8211; 60 menit dengan biaya sebesar 350 ribu (<em>efektif tapi tidak efisien</em>). Saya mau pergi ke Jogja naik bis dengan biaya sebesar 100 ribu serta memakan waktu 10 jam perjalanan (<em>efisien tapi tidak efektif</em>).</p>
<p style="text-align: justify;">
<div id="attachment_558" class="wp-caption aligncenter" style="width: 310px"><a href="http://antokoe.com/wp-content/uploads/2010/06/efektifefisien.png"><img class="size-medium wp-image-558" title="efektif&amp;efisien" src="http://antokoe.com/wp-content/uploads/2010/06/efektifefisien-300x179.png" alt="" width="300" height="179" /></a><p class="wp-caption-text">Efektif dan Efisien</p></div>
<p><em>High Efficiency</em> &#8211; Low resource waste (hemat) sedangkan <em>High Effectiveness</em> &#8211; High Goal Attainment  (berfiokus tercapainya tujuan). Melakukan sesuatu efektif dan efisien adalah sebuah kerja keras dan mungkin keberuntungan. Misal dapat harga promo pergi ke Jogja naik pesawat dan hanya membayar 20 ribu.</p>
<p style="text-align: justify;">Kalau ditanya mau yang efisien atau efektif?. Jawabannya mungkin sulit, tapi bisa juga tergantung kondisi dan tingkat kebutuhannya. Untuk mendapatkan sesuatu yang baik atau bagus kadang kurang efisien. Atau melakukan dengan efektif  kadang akan memberikan nilai efisien. Untuk mencapai tujuan lebih cepat, efisiensi terkadang terkesampingkan. Semuanya tergantung konteks dan situasi.</p>
<p style="text-align: justify;">Kalau sudah punya blog (berbayar pula) tapi tidak diupdate, termasuk tidak efisien atau tidak efektif ?. Bingung njawabnya.</p>
<h6 style="text-align: justify;">Gambar : thegreenberggroup.org</h6>
Number of View :11523<img src="http://antokoe.com/?ak_action=api_record_view&id=557&type=feed" alt="" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://antokoe.com/mau-efisien-atau-efektif/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>27</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Sang Tukang Kecap</title>
		<link>http://antokoe.com/sang-tukang-kecap/</link>
		<comments>http://antokoe.com/sang-tukang-kecap/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 24 May 2010 10:07:04 +0000</pubDate>
		<dc:creator>antokoe™</dc:creator>
				<category><![CDATA[Pendidikan]]></category>
		<category><![CDATA[kecap]]></category>
		<category><![CDATA[pembelajaran]]></category>
		<category><![CDATA[tukang kecap]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://antokoe.com/?p=527</guid>
		<description><![CDATA[Dia menganggap dirinya seperti tukang kecap. Sedang berusaha menjadi tukang kecap yang baik. Tiap hari selalu mencoba inovasi, meramu berbagai komposisi untuk menghasilkan kecap yang pas disemua penikmatnya. Tiada hari tanpa &#8216;kecapannya&#8217; . Dia kadang harus begadang, untuk mendapatkan komposisi yang pas, karena dia sadar untuk mempertahankan rasa membutuhkan sebuah usaha yang keras. Dia sangat [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="attachment_528" class="wp-caption alignleft" style="width: 152px"><a href="http://antokoe.com/wp-content/uploads/2010/05/kecapkoe.jpg"><img class="size-full wp-image-528" title="kecapkoe" src="http://antokoe.com/wp-content/uploads/2010/05/kecapkoe.jpg" alt="Kecapkoe" width="142" height="142" /></a><p class="wp-caption-text">Kecap</p></div>
<p style="text-align: justify;">Dia menganggap dirinya seperti tukang kecap. Sedang berusaha menjadi tukang kecap yang baik. Tiap hari selalu mencoba inovasi, meramu berbagai komposisi untuk menghasilkan kecap yang pas disemua penikmatnya. Tiada hari tanpa &#8216;kecapannya&#8217; . Dia kadang harus begadang, untuk mendapatkan komposisi yang pas, karena dia sadar untuk mempertahankan rasa membutuhkan sebuah usaha yang keras.</p>
<p style="text-align: justify;"><span id="more-527"></span>Dia sangat terbuka, serta terkesan bebas, tanpa canggung dengan para penikmat kecapnya. Hal itu dia lakukan karena memang begitu seharusnya. Dia berusaha agar rasa kecapnya bisa dinikmati secara utuh dan bisa melakukan inovasi menciptakan rasa kecap baru yang sesuai jaman. Dia sangat menyadari bahwa tidak semua bisa menikmati dengan mudah, tapi sebuah dorongan tanpa henti dan berharap semuanya menerima. Era internet mengubah perilaku dalam berkomunikasi dan penyajian, hal ini disadari betul sang penjual kecap. Berangkat dari keinginan itu, mulailah dia memasarkan daganganya ke ranah online, agar semua orang bisa menikmati racikan mautnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Dia merasa harus terus berinovasi untuk menemukan formula yang pas dan yang terpenting dapat memberikan inspirasi ke semua penikmatnya. Siapa mau pesan&#8230;.?</p>
<blockquote>
<p style="text-align: justify;">Untuk semua penikmat kecap&#8230;&#8230;!</p>
</blockquote>
Number of View :6293<img src="http://antokoe.com/?ak_action=api_record_view&id=527&type=feed" alt="" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://antokoe.com/sang-tukang-kecap/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>31</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Membiasakan Diri</title>
		<link>http://antokoe.com/membiasakan-diri/</link>
		<comments>http://antokoe.com/membiasakan-diri/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 02 Apr 2010 03:42:05 +0000</pubDate>
		<dc:creator>antokoe™</dc:creator>
				<category><![CDATA[Internet]]></category>
		<category><![CDATA[Pendidikan]]></category>
		<category><![CDATA[elearning]]></category>
		<category><![CDATA[esinaukoe]]></category>
		<category><![CDATA[learning]]></category>
		<category><![CDATA[pembelajaran]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://antokoe.com/?p=489</guid>
		<description><![CDATA[Mencoba sesuatu yang baru butuh keberanian lengkap dengan konsekuensi yang ada. Banyak orang tidak berani ambil resiko karena sudah merasa sudah nyaman dengan kondisi yang ada. Menemukan metode baru dalam menyampaikan sesuatu yang biasa ternyata tidak mudah. Banyak guru-guru kita yang masih enggan meninggalkan cara mengajar model lama sedangkan jaman, serta anak didiknya berevolusi menjadi [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">
<div id="attachment_491" class="wp-caption alignleft" style="width: 260px"><a href="http://antokoe.com/wp-content/uploads/2010/04/esinaukoe_logo2.png"><img class="size-full wp-image-491" title="esinaukoe_logo2" src="http://antokoe.com/wp-content/uploads/2010/04/esinaukoe_logo2.png" alt="eSinaukoe" width="250" height="60" /></a><p class="wp-caption-text">Learning with Mas Anto</p></div>
<p style="text-align: justify;">Mencoba sesuatu yang baru butuh keberanian lengkap dengan konsekuensi yang ada. Banyak orang tidak berani ambil resiko karena sudah merasa sudah nyaman dengan kondisi yang ada. Menemukan metode baru dalam menyampaikan sesuatu yang biasa ternyata tidak mudah. Banyak guru-guru kita yang masih enggan meninggalkan cara mengajar model lama sedangkan jaman, serta anak didiknya berevolusi menjadi generasi instan dan <em>IT-based.</em></p>
<p style="text-align: justify;"><span id="more-489"></span>Suatu kesempatan saya ketemu dengan sahabat waktu SMA yang sekarang mengabdi menjadi seorang pendidik, kebetulan sahabat perempuan saya &#8216;<em>kebagian</em>&#8216; mendidik adik di tingkat SD dan yang satunya mendidikan di tingkat SMP. Sahabat yang mendidik di SD, seperti merasa jenuh dengan rutinitas mengajar walau sistem kurikulum sudah berganti berulang kali. Sedangkan sahabat yang mendidik SMP, dan kebetulan mengajar pelajaran yang menjadi momok para siswa, matematika. Sedikit frustasi dalam usaha membuat mereka mengerti matematika. Akhirnya pasrah, yang penting sudah tersampaikan dan sesuai kurikulum. Waktu itu kami sharing, akhirnya mengerucut ke satu titik bahwa mereka kurang berinovasi dalam menemukan cara mengajar yang efektif ditengah anak didiknya yang setiap saat dijejali informasi dari media elektronik dan online. Kepada sahabat yang mengajar matematika, saya mengusulkan, coba <em>mindset</em> mereka pelan-pelan diubah dari <em>mindset</em> penghafal ulung (<em>maklum mulai TK sudah diajarin menjadi penghafal bukan dibiasakan menganalisa</em>), dan menekankan bahwa matematika itu cara melakukan dan angka hanya sebuah alat pembuktian. Kalau terfokus pada angka, bisa dipastikan yang belajar berasumsi pasti susah. Yang tidak kalah penting adalah adalah kreatifitas dalam menyampaikan materi pelajaran, jangan gunakan cara yang biasa, temukan cara baru dan diusahakan mewakili kekinian.</p>
<p style="text-align: justify;">Berhadapan dengan kondisi kekinian yang mengarah ke <em>IT-based</em>, cara pembelajaran juga diarahkan menuju kesana. Sekarang saya sedang mencoba metode pembelajaran yang lebih mandiri dan disiplin tinggi. Melalui <a title="eSinaukoe" href="http://learning.mas-anto.com">media</a> yang saya siapkan untuk pembelajaran elektronik (<em>e-learning</em>), saya mengarahkan mereka untuk membiasakan diri selalu update untuk mengikuti materi perkuliahan dan evaluasi (tugas/ujian). Sebagian mereka merasa sangat terbantu karena dalam mengerjakan tugas/ujian lebih enjoy dan tidak dibatasi oleh waktu ujian yang pendek. Sebagian (besar) merasa kesulitan mengikutinya. Penyebabnya apa?. Kebiasaan. Transformasi kebiasaan dari evaluasi di kelas dengan evaluasi secara online kalau tidak didukung dengan kebiasaan berinternet ternyata merepotkan. Di tahap awal, sebagian dari mereka terlewat tugasnya karena belum terbiasa dan ketidakdisiplinan mereka, karena sistem evaluasi dibatasi oleh waktu. Mengerjakan lebih dari waktu yang ditentukan berarti hilang kesempatan untuk mengerjakan tugas. Berarti komponen nilai &#8216;<em>terpaksa</em>&#8216; harus kosong.</p>
<p style="text-align: justify;">Menjadi seorang pendidik atau apapun istilahnya, menemukan metode baru pengajaran yang kekinian dan berusaha menjadi inspirator buat anak didiknya adalah tugas berat.</p>
<blockquote>
<p style="text-align: justify;"><em><span style="color: #800000;">Terima kasih kepada yang menamakan diri bRomoCorah yang memperingatkan saya untuk update sistem blog ini, kemarin anda bisa masuk dan mengubah nama dan tagline blog saya ini.</span></em></p>
</blockquote>
Number of View :6085<img src="http://antokoe.com/?ak_action=api_record_view&id=489&type=feed" alt="" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://antokoe.com/membiasakan-diri/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>19</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Makhluk itu Bernama Jejaring Sosial</title>
		<link>http://antokoe.com/makhluk-itu-bernama-jejaring-sosial/</link>
		<comments>http://antokoe.com/makhluk-itu-bernama-jejaring-sosial/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 17 Feb 2010 05:07:11 +0000</pubDate>
		<dc:creator>antokoe™</dc:creator>
				<category><![CDATA[Internet]]></category>
		<category><![CDATA[Pendidikan]]></category>
		<category><![CDATA[Renungan]]></category>
		<category><![CDATA[facebook]]></category>
		<category><![CDATA[jejaring sosial]]></category>
		<category><![CDATA[kasus facebook]]></category>
		<category><![CDATA[myspace]]></category>
		<category><![CDATA[twitter]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://antokoe.com/?p=450</guid>
		<description><![CDATA[Makhluk ini tak berbentuk fisik dan tak menyeramkan tapi akhir-akhir ini menjadi sosok yang bagi sebagian orang menyeramkan. Jejaring sosial adalah bentuk perwujudan dari konsep membangun komunikasi tanpa memandang apa dan dimana pelakunya berada. Sebenarnya konsep ini sudah ada sejak lama, tapi menjadi booming beberapa tahun terakhir. Manusia dimanjakan oleh produk teknologi komunikasi yang meminimalkan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">
<div id="attachment_454" class="wp-caption alignleft" style="width: 206px"><a href="http://antokoe.com/wp-content/uploads/2010/02/facebook_logo2.png"><img class="size-medium wp-image-454" title="facebook_logo2" src="http://antokoe.com/wp-content/uploads/2010/02/facebook_logo2-300x300.png" alt="" width="196" height="196" /></a><p class="wp-caption-text">Facebook</p></div>
<p style="text-align: justify;">Makhluk ini tak berbentuk fisik dan tak menyeramkan tapi akhir-akhir ini menjadi sosok yang bagi sebagian orang menyeramkan. Jejaring sosial adalah bentuk perwujudan dari konsep membangun komunikasi tanpa memandang apa dan dimana pelakunya berada. Sebenarnya konsep ini sudah ada sejak lama, tapi menjadi booming beberapa tahun terakhir. Manusia dimanjakan oleh produk teknologi komunikasi yang meminimalkan interaksi secara langsung sehingga konsep agung <span style="color: #ff0000;">silaturahmi</span> mulai terkikis oleh sifat instan dan praktis.</p>
<p style="text-align: justify;"><span id="more-450"></span>Makhluk beridentitas Friendster, MySpace, Twitter dan Facebook menjadi teman akrab para jamaah online sehingga banyak menyita waktu efektif setiap harinya. Setidaknya ritualitasnya bertambah seperti yang tuturkan oleh penyanyi rap mutakhir Saykoji lewat lagunya Online. Situasi ini tentunya diendors secara tidak langsung para produsen alat komunikasi (baca:telepon gengam) dan provinder penyedia jaringan komunikasi (operator). Perilaku berubah seiring bagaimana manusia membangun komunikasi dan memaknai komunikasi.</p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;">Jejaring sosial bisa sangat membantu para pelaku sosialita tapi bisa sangat mengganggu atau malah menakutkan. Jika diajukan pertanyaan &#8220;Kenapa sih ikut Facebook-an?&#8221;. Yang muncul adalah jawaban standar, jarang menjawab begini &#8220;Saya kan pengin eksis dan narsis!&#8221;. Popularitas sebuah jejaring sosial seperti Facebook (FB) mendorong orang untuk bergabung mulai dari anak SD sampai ibu-ibu. Setiap popularitas selalu bermata dua positif dan negatif. Tidak heran popularitas FB mendorong para jamaahnya untuk membangun komunikasi lebih intens dibanding sebelumnya seperti makin banyaknya acara reuni lintas masa. Sisi lain memberikan lahan baru bagi para penikmat nakal untuk mendapatkan mangsanya.Positif apa negatif tergantung pelaku membawa arah yang diinginkan. Pada hakekat teknologi dihadirkan untuk melengkapi kekurangan manusia atau membantu manusia dalam beraktifitas sedangkan efek adalah bentuk keluaran yang sering dipengaruh mindset manusia itu sendiri.</p>
<p style="text-align: justify;">Kasus penyalahgunaan FB hari terakhir cukup meresahkan para orang tua yang mempunyai putra/putri tanggung umur. Menurut Komnas Anak, ada 1000 lebih laporan penyalahgunaan FB dan rata-rata terjadi diranah remaja sampai dewasa. Kemudahan dan kebebasan jejaring sosial sering mengesamping kontrol, jadi tidak heran jika terjadi pelecehan, penghinaan, pencemaran nama baik terjadi diranah jejaring sosial. Kondisi ini mengingatkan kembali wacana fatwa haram untuk FB. Fatwa mungkin tidak perlu dikeluarkan tapi memberikan informasi dan mengingatkan rambu-rambu yang perlu diperhatikan.</p>
<p style="text-align: justify;">Terakhir jadi ingat, seorang ibu datang ke tempat kerjaku bilang, &#8220;<em><strong>Mas bisa ajari saya Facebook?&#8221;</strong></em>. Kemudian ibu itu saya ajarin dasar-dasar pengoperasian internet, sampai pada pembuatan email dan cara menggunakannya. Kemudian,&#8221;<em><strong>Mas sekarang ajari saya Facebook?</strong></em>&#8220;. Dengan sabar saya menuntun ibu mulai membuat akun FB, sampai pada tahap mencari teman. &#8220;<em><strong>Anak ibu punya Facebook?&#8221;</strong></em>. Ibu menjawab, &#8220;<em><strong>Ada mas!&#8221;</strong></em>. Saya mulai mengajarkan bagaimana mencari teman yang mungkin dikenalnya. Ketemulah akun anak ibu ini dan menambahkan dalam daftar teman. Kebetulan sang anak sedang online, permintaan teman langsung di-<em>approve</em>. &#8220;<strong><em>Mas gimana cara saya bisa chatting dengan anak saya?&#8221;</em></strong>. <strong><em>&#8220;Begini&#8230;&#8221;.</em></strong> Dan tak lama sang ibu dan anak mulai berkomunikasi via FB. <em><strong>&#8220;Kamu dimana nak?&#8221;</strong></em>, itulah kalimat percakapan si ibu dengan anak, kemudian diteruskan dengan <em><strong>&#8220;Kamu sudah makan?&#8221;</strong></em>. Si anak malah balik nanya <em><strong>&#8220;Mama ngapain sih ikut-ikutan main Facebook?&#8221;. </strong></em></p>
<p style="text-align: justify;">Sebelum kursus singkat itu berakhir, saya menanyakan kepada si Ibu, <em><strong>&#8220;Kenapa bu kok ibu pengin diajarin  Facebook?&#8221;</strong></em>. Jawaban standarnya, &#8220;<strong><em>kepengin mas, teman-teman saya sudah punya Facebook&#8221;</em></strong>. Si ibu melanjutkan jawaban, <em><strong>&#8220;Sebenarnya saya pengin mantau anak-anak saya yang menginjak remaja secara tidak langsung&#8221;</strong></em>. Jawaban yang cukup bijaksana, pikir saya. Ini <em>true story,</em> &#8220;<strong><em>hallo ibu Ita, salam buat anak-anak ibu yang cantik&#8221;.</em></strong></p>
<p style="text-align: justify;">
Number of View :13013<img src="http://antokoe.com/?ak_action=api_record_view&id=450&type=feed" alt="" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://antokoe.com/makhluk-itu-bernama-jejaring-sosial/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>37</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Mahalnya Sebuah Ilmu</title>
		<link>http://antokoe.com/mahalnya-sebuah-ilmu/</link>
		<comments>http://antokoe.com/mahalnya-sebuah-ilmu/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 12 Jan 2010 11:18:25 +0000</pubDate>
		<dc:creator>antokoe™</dc:creator>
				<category><![CDATA[Pendidikan]]></category>
		<category><![CDATA[Renungan]]></category>
		<category><![CDATA[java]]></category>
		<category><![CDATA[mysql]]></category>
		<category><![CDATA[php]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://antokoe.com/?p=417</guid>
		<description><![CDATA[Pas liburan kemarin iseng-iseng, Jono pergi sebuah toko hewan (pet-shop). Niatnya dari rumah adalah pengin mencari kandang buat Hamster soalnya yang lama sudah sesak. Masuklah ke toko hewan, tengak-tengok mencari kandang yang dimaksud. Tiba-tiba seorang laki-laki masuk dan langsung bertanya kepada penjaga toko. &#8220;Monyet itu harganya berapa mas?&#8220;. Dengan ramahnya penjaga menjawab, &#8220;Oh&#8230;kalau yang itu [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">
<div id="attachment_421" class="wp-caption alignleft" style="width: 242px"><a href="http://antokoe.com/wp-content/uploads/2010/01/monkey.jpg"><img class="size-medium wp-image-421" title="monkey" src="http://antokoe.com/wp-content/uploads/2010/01/monkey-232x300.jpg" alt="Mahalnya Sebuah Ilmu" width="232" height="300" /></a><p class="wp-caption-text">I&#39;m not Monkey</p></div>
<p style="text-align: justify;">Pas liburan kemarin iseng-iseng, Jono pergi sebuah toko hewan (<em>pet-shop</em>). Niatnya dari rumah adalah pengin mencari kandang buat Hamster soalnya yang lama sudah sesak. Masuklah ke toko hewan, tengak-tengok mencari kandang yang dimaksud. Tiba-tiba seorang laki-laki masuk dan langsung bertanya kepada penjaga toko. <em><strong>&#8220;Monyet itu harganya berapa mas?</strong></em>&#8220;. Dengan ramahnya penjaga menjawab,<em><strong> &#8220;Oh&#8230;kalau yang itu harganya 25 juta..!&#8221;.</strong></em> Tanpa pikir panjang laki-laki itu mengeluarkan segepok uang dari tasnya dan langsung membayar monyet itu dengan tunai. Setelah itu monyet dalam kandang langsung dibawa pulang.</p>
<p style="text-align: justify;"><span id="more-417"></span>Menyaksikan kejadian itu, Jono jadi penasaran. &#8220;<em>Monyet apaan kok harganya sampai 25 juta&#8221;</em>. Untuk mengobati rasa penasaran, Jono menanyakan langsung ke penjaga toko. &#8220;<em><strong>Mas monyet kecil begitu kok harganya sampai 25 juta sih?&#8221;.</strong></em> Si penjaga menjawab dengan singkat, dan tanpa emosi sedikitpun.  <em><strong>&#8220;Oh,,, kalau yang tadi itu mahir program Visual Basic&#8221;</strong></em>. Si Jono kaget dan heran, yang notabene dia adalah mahasiswa informatika semester 3. Ditengah keheranan, masuklah seorang ibu (bersama ajudannya) yang kalau dilihat dari penampilannya seperti seorang yang mempunyai kekuasaaan. Si ibu langsung menuju kandang yang posisinya sebelah kanan depan  Jono. &#8220;<em><strong>Mas saya mau beli yang ini mas?</strong></em>&#8220;, si ibu berbicara dengan penjaga toko. <strong><em>&#8220;Mau bayar tunai apa cek bu?&#8221;</em></strong>, tanya si penjaga. <em><strong>&#8220;Tunai saja&#8221;,</strong></em> jawab singkat si ibu. Langsung si ibu mengeluarkan sepuluh  gepok uang 100 ribuan dan menyerahkan kepada si penjaga. Si penjaga menerima dengan hati-hati kemudian membuatkan kuitansi. Setelah selesai si ibu beranjak pergi, sementara sang ajudan menggotong kandang yang berisi monyet tadi menuju mobil yang sudah diparkir didepan toko.</p>
<p style="text-align: justify;">Lebih penasaran lagi si Jono, langsung tanya dengan si penjaga. <strong><em>&#8220;Yang tadi monyet apalagi kok harganya sampai 100 juta?&#8221;.</em></strong> Si penjaga menjawab dengan entengnya seperti biasa, <strong><em>&#8220;Monyet yang tadi itu mahir .NET, PHP&#8221;.</em></strong> Si Jono melongo mendengar jawaban si penjaga toko.  Saking penasarannya mendekatlah Jono ke kandang monyet di pojok toko, dan matanya langsung tertuju pada label yang ada dikandang. <em><strong>&#8220;Mas kalau monyet ini kok harganya sampai 500 juta?</strong></em>&#8220;. Si penjaga diam sambil merapikan susunan makanan kucing yang ada dirak, terus mendekati si Jono, <em><strong>&#8220;Yang ini mas&#8230;.?&#8221;</strong></em>, sambil menunjuk monyet dalam kandang. <em><strong>&#8220;Yang ini adalah project manager yang mahir bahasa program JAVA dan sudah mengantongi beberapa sertifikat dari Sun Microsystem&#8221;. </strong></em></p>
<p style="text-align: justify;">Si Jono nyengir mendengar jawaban penjaga toko. Dalam penjalanan pulang si Jono pikirannya berputar-putar, ternyata ilmu itu mahal lebih-lebih ilmu yang diimbagi kecakapan khusus.</p>
<p style="text-align: justify;">Terinspirasi dari buku <strong>A Project Management Primer</strong> <strong>(Nick Jenkins 2005).</strong></p>
<p style="text-align: justify;"><strong>antokoe/12012010<br />
</strong></p>
Number of View :14391<img src="http://antokoe.com/?ak_action=api_record_view&id=417&type=feed" alt="" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://antokoe.com/mahalnya-sebuah-ilmu/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>56</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Lulus Kuliah, Bisa Apa?</title>
		<link>http://antokoe.com/lulus-kuliah-bisa-apa/</link>
		<comments>http://antokoe.com/lulus-kuliah-bisa-apa/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 24 Oct 2009 17:02:00 +0000</pubDate>
		<dc:creator>antokoe™</dc:creator>
				<category><![CDATA[Pendidikan]]></category>
		<category><![CDATA[kuliah]]></category>
		<category><![CDATA[mutu lulusan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://antokoe.com/?p=364</guid>
		<description><![CDATA[Paradigma lama, selesaikan kuliah terus cari kerja. Paradigma anyar, kerja dulu baru kuliah. Dua paradigma tadi tidak berlaku di setiap lingkungan masyarakat yang ada (baca:daerah atau kondisi tertentu). Lulus sekolah (SMA)/SMK), orientasinya melanjutkan kuliah (dulu/sekarang) atau cari kerja dulu (sekarang). Ilustrasi sederhana dalam satu keluarga ada 3 bersaudara, yang sulung baru lulus SMA, anak nomer [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><img class="alignleft size-medium wp-image-366" title="jobless" src="http://antokoe.com/wp-content/uploads/2009/10/jobless-300x197.jpg" alt="jobless" width="300" height="197" />Paradigma lama, selesaikan kuliah terus cari kerja. Paradigma anyar, kerja dulu baru kuliah. Dua paradigma tadi tidak berlaku di setiap lingkungan masyarakat yang ada (baca:daerah atau kondisi tertentu). Lulus sekolah (SMA)/SMK), orientasinya melanjutkan kuliah (dulu/sekarang) atau cari kerja dulu (sekarang). Ilustrasi sederhana dalam satu keluarga ada 3 bersaudara, yang sulung baru lulus SMA, anak nomer dua masuk SMP dan anak terakhir masih duduk dibangku SD. Anggap keluarga ini kondisi ekonominya menengah kebawah, sebagai orang tua lebih mungkin akan mengutamakan membiayai anak nomer dua dan terakhir. Anak sulung mungkin bisa break dulu, atau mencari kerja.</p>
<p style="text-align: justify;"><span id="more-364"></span>Melanjutkan sekolah ke jenjang pendidikan tinggi (kuliah) ada sebuah pilihan. Pilihan memantapkan pondasi ilmu dan menambah kepercayaan diri jika nanti terjun ke dunia kerja. Kenyataannya persaingan makin terbuka dan kadang tidak berjalan seiring dengan mutu pendidikan, sehingga setelah lulus kualitasnya tidak bisa diadu dengan sengitnya persaingan. Ini tantangan bagi para pengelola pendidikan tinggi, bagaimana menghasilkan lulusan kualitas tinggi. Kesenjangan mutu pendidikan antara institusi berplat merah dengan institusi pendidikan partikelir (swasta) makin lebar. Pendidikan bermutu selalu identik dengan biaya kuliah yang mahal, sehingga hanya orang yang mampu yang bisa merasakankannya. Sedangkan institusi pendidikan swasta, terutama perguruan kecil atau kampus ruko, mereka berjalan seadanya, lebih sebagai penampung luberan dari kampus yang lebih besar dan biasanya biaya kuliahnya lebih terjangkau.</p>
<p style="text-align: justify;">Tapi bagi sebagian orang berkuliah dikampus ruko lebih menguntungkan, bukan karena biaya terjangkau tapi lebih kepada fleksibelitas waktu. Rata-rata mereka bisa kuliah karena sudah bekerja, bukan bisa bekerja karena sudah lulus kuliah. Dilevel ini terjadi pergeseran motivasi dalam berkuliah. Mereka berkuliah karena sebuah tuntutan bukan karena ilmu sehingga pencapaian prestasi menjadi prioritas nomer sekian. Setelah lulus, apakah mereka akan dengan suka rela berganti pekerjaan (dari sebelumnya, yang sangat mungkin tidak berhubungan dengan jurusan waktu kuliah) agar sesuai dengan ilmu yang didapat di bangku kuliah?. Ini pertanyaan dilematis.</p>
<p style="text-align: justify;">Persaingan kampus (perguruan tinggi menengah kebawah) juga tak kalah menarik. Mereka menawarkan kemudahan untuk lulus dengan biasa terjangkau dengan tampilan gedung yang megah. Dan ironisnya mereka memilih tempat kuliah karena faktor nama plus kemegahan gedung terutama bagi mereka yang baru lulus SMA/SMK yang terlempar dari ujian saringan masuk kampus plat merah. Itu sah-sah saja. Tapi apakah hal ini berbanding lurus dengan kualitas lulusan?. Menurut <a href="http://www.bps.go.id/tab_sub/view.php?tabel=1&amp;daftar=1&amp;id_subyek=06&amp;notab=4" target="_blank">Badan Pusat Statistik (BPS) pengangguran terbuka menurut pendidikan tertinggi (Februari 2009)</a>, pengangguran lulusan SMA sebanyak 1.337.586 sedangkan lulusan diploma (D3) mencapai 486.399. Ini lebih kecil dibanding sarjana yang menganggur yang mencapai 626.621. Kondisi ini akan makin bertambah karena setiap tahun lulusan diploma dan sarjana bertambah dengan besaran hampir sama dengan data diatas serta diperparah dengan terbatasnya lowongan kerja yang tersedia. Tugas berat pengelola perguruan tinggi adalah menciptakan lulusan yang mempunyai jiwa wirausaha, sehingga mereka bukan pencari kerja tapi pencipta lapangan kerja.</p>
<p style="text-align: justify;">Ada sebuah statement begini &#8220;<em><strong>apapun jurusan kamu kuliah, setelah lulus kamu bisa apa?&#8221;</strong></em></p>
<p style="text-align: justify;"><em><strong>antokoe/241009</strong></em></p>
Number of View :13617<img src="http://antokoe.com/?ak_action=api_record_view&id=364&type=feed" alt="" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://antokoe.com/lulus-kuliah-bisa-apa/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>64</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Sekolah Yuk&#8230;</title>
		<link>http://antokoe.com/sekolah-yuk/</link>
		<comments>http://antokoe.com/sekolah-yuk/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 25 Jun 2009 04:41:20 +0000</pubDate>
		<dc:creator>antokoe</dc:creator>
				<category><![CDATA[Pendidikan]]></category>
		<category><![CDATA[buku]]></category>
		<category><![CDATA[pilpres]]></category>
		<category><![CDATA[sekolah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://antokoe.wordpress.com/?p=232</guid>
		<description><![CDATA[Tahun 2009, sekolah GRATIS. Itu bunyi iklan di tipi. Asyik&#8230;berarti di negara ini masih ada yang gratis, selain kentut. Gratis sih iya, tapi beli bukunya 10 kali lipat dari biaya sekolah yang digratiskan. Halo capres no.1 yang pro rakyat, gimana nih calon rakyatnya masih belum mampu beli buku?. Kalau menurut capres no.2 apakah ujian nasional [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:justify;"><img class="alignleft" title="Sekolah Yuk..." src="http://mywrotes.files.wordpress.com/2009/05/baca-di-atap.jpg" alt="" width="217" height="163" />Tahun 2009, sekolah GRATIS. Itu bunyi iklan di tipi. Asyik&#8230;berarti di negara ini masih ada yang gratis, selain kentut. Gratis sih iya, tapi beli bukunya 10 kali lipat dari biaya sekolah yang digratiskan. Halo capres no.1 yang pro rakyat, gimana nih calon rakyatnya masih belum mampu beli buku?. Kalau menurut capres no.2 apakah ujian nasional harus dilanjutkan?. Terus bagaimana menurut capres no.3, kapan sekolah-sekolah yang mau (sudah) ambruk diperbaiki?. tentunya lebih cepat akan lebih baik, karena pendidikan adalah parameter penting kualitas bangsa.</p>
<p style="text-align:justify;"><span id="more-232"></span>&#8220;Katanya sekolah udah gak boleh jualan buku, tapi tadi kok dikasih daftar buku lengkap beserta nama penerbit dan toko bukunya. O&#8230;.itu mungkin hanya rekomendasi dari sekolah, yang penting belinya gak disekolah. O&#8230;jadi gitu ya. Kata gurunya sih boleh kok beli diluar. Ya ..udah beli aja diluar.&#8221; (<em>ringkasan dialog dengan istri, setelah ambil raport anak tadi pagi</em>).</p>
Number of View :3619<img src="http://antokoe.com/?ak_action=api_record_view&id=232&type=feed" alt="" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://antokoe.com/sekolah-yuk/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>13</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kreatifitas vs Copy-Paste</title>
		<link>http://antokoe.com/kreatifitas-vs-copy-paste/</link>
		<comments>http://antokoe.com/kreatifitas-vs-copy-paste/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 22 Jun 2009 03:41:40 +0000</pubDate>
		<dc:creator>antokoe</dc:creator>
				<category><![CDATA[Pendidikan]]></category>
		<category><![CDATA[copy]]></category>
		<category><![CDATA[kreatifitas]]></category>
		<category><![CDATA[paste]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://antokoe.wordpress.com/?p=227</guid>
		<description><![CDATA[&#8220;Dahsyat, dampak dari kemajuan IT, mengubah sosok kreatif menjadi sosok berperilaku instan. Bayangkan mengoreksi ratusan laporan hanya dalam waktu 15 menit selesai. Ku-ucapkan beribu terima kasih pada IT, karena mereka sangat tertolong dengan teknologi COPY-PASTE&#8221;. Itu adalah kutipan yang aku ambil dari wall status profil Facebook-ku. Aku menuliskan status itu sebenarnya pengin menyindir rekan belajarku, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="alignleft" title="Copy-Paste" src="http://kampanyedamai.pemiluindonesia.com/2009/wp-content/uploads/2009/02/copypaste.png" alt="Copy-Paste" width="145" height="145" /></p>
<p style="text-align:justify;">&#8220;<em>Dahsyat, dampak dari kemajuan IT, mengubah sosok kreatif menjadi sosok berperilaku instan. Bayangkan mengoreksi ratusan laporan hanya dalam waktu 15 menit selesai. Ku-ucapkan beribu terima kasih pada IT, karena mereka sangat tertolong dengan teknologi COPY-PASTE&#8221;</em>.</p>
<p style="text-align:justify;"><span id="more-227"></span>Itu adalah kutipan yang aku ambil dari wall status <a title="My Facebook Profile" href="http://www.facebook.com/mas.anto" target="_blank">profil Facebook-ku</a>. Aku menuliskan status itu sebenarnya pengin menyindir rekan belajarku, yang begitu semangatnya membuat laporan tapi lupa dengan tujuan kenapa harus belajar. Pendidikan itu boleh salah tapi tidak boleh bohong. Kejujuran dan keikhlasan dalam belajar tentunya akan memberi keberkahan ilmu yang didapat.</p>
<p style="text-align:justify;">Teknologi diciptakan untuk memberikan kemudahan pencipta atau pemakai, tapi disisi lain juga dimanfaatkan untuk mencari jalan instan dalam arti yang kurang terpuji. Copy-Paste adalah salah satu contoh. Copy-Paste semangat dan kreatifitas orang lain mungkin akan membuat hidup kita lebih berarti.</p>
<p style="text-align:justify;">Kalau mau Copy-Paste, gunakan cara yang lebih cerdas dan bermartabat. Mau????</p>
Number of View :6585<img src="http://antokoe.com/?ak_action=api_record_view&id=227&type=feed" alt="" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://antokoe.com/kreatifitas-vs-copy-paste/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>16</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Ngajak NgeBLOG</title>
		<link>http://antokoe.com/ngajak-ngeblog/</link>
		<comments>http://antokoe.com/ngajak-ngeblog/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 11 May 2009 17:38:57 +0000</pubDate>
		<dc:creator>antokoe</dc:creator>
				<category><![CDATA[Blogger]]></category>
		<category><![CDATA[KBM]]></category>
		<category><![CDATA[Pendidikan]]></category>
		<category><![CDATA[agregator]]></category>
		<category><![CDATA[blog]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://antokoe.wordpress.com/?p=210</guid>
		<description><![CDATA[Hampir setahun komunitas yang aku gagas berdiri. Sederhana sebenarnya ide ini muncul, bagaimana membuat sebuah wadah untuk berbagi antar mahasiswa, dosen di kampusku. Akhirnya dengan mengetuk keikhlasan dan bersepakat mengumpulkan uang yang rata-ratanya lima belas ribuan dan disepakati untuk membuat sebuah website sebagai media komunikasi antar mahasiswa dan dosen. Workshop ini sempat mandeg lebih dari [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:justify;"><img class="alignleft" title="Komunitas Blogger Mercusian" src="http://mercusian.com/kbm_banner250x80.png" alt="" width="250" height="80" />Hampir setahun <a title="Komunitas Mercusian" href="http://www.mercusian.com" target="_blank">komunitas </a>yang aku gagas berdiri. Sederhana sebenarnya ide ini muncul, bagaimana membuat sebuah wadah untuk berbagi antar mahasiswa, dosen di <a title="STMIK Mercusuar" href="http://www.mercusuar.ac.id" target="_blank">kampusku</a>. Akhirnya dengan mengetuk keikhlasan dan bersepakat mengumpulkan uang yang rata-ratanya lima belas ribuan dan disepakati untuk membuat sebuah website sebagai media komunikasi antar mahasiswa dan dosen. Workshop ini sempat mandeg lebih dari setengah tahun padahal yang pada ikutan iuran sudah melupakan (kekecilan kali), dan akhirnya pertengahan tahun 2008, rencana semula direaliasikan.</p>
<p style="text-align:justify;"><span id="more-210"></span>Dengan hasil patungan maka dibelilah domain+hosting untuk setahun dan website <a title="Komunitas Mercusian" href="http://www.mercusian.com" target="_blank">Komunitas Mercusian</a> online juga. Setelah online mengenalkan website ini juga membutuhkan waktu. Dari website utama lahirlah beberapa subdomain mulai dari <a title="Blog Mercusian" href="http://blog.mercusian.com" target="_blank">blog</a>, <a title="Mercusian Karir" href="http://karir.mercusian.com" target="_blank">karir</a>, workshop dan yang paling gress adalah <a title="Komunitas Blogger Mercusian" href="http://blogger.mercusian.com/form-kbm/" target="_blank">Komunitas Blogger Mercusian (KBM)</a>.</p>
<p style="text-align:justify;">Website terakhir ini adalah sebuah blog agregator yang mengumpulkan posting blog dari para anggota yang diambil secara otomatis dan periodik. Tapi ide ini pada awalnya tidak mulus, akhirnya dengan cuap-cuap sana-sini akhir ada sebuah pergerakan yang signifikan, para anggota berlomba-lomba membuat blog (WordPress). Setiap anggota wajib menempelkan banner dan mengikuti aturan yang serta wajib <a title="Form KBM" href="http://blogger.mercusian.com/form-kbm/" target="_blank">mendaftarkan</a> website KBM. Alhamdulillah dalam waktu beberapa minggu sudah terdaftar sebagai contributor website KBM lebih dari 40 blog dan kalau lancar ada sekitar 100 blog lagi yang akan menjadi bagian dari KBM.</p>
<p style="text-align:justify;">Blog sudah jadi, tapi masih banyak yang belum dapat mendefinisikan blog yang dibuatnya. Tapi hal ini pernah aku rasakan sewaktu dulu belajar nge-blog. Yang paling menggelikan adalah bingung mau nulis apa di blog. Klasik dan nyata. Harapannya tidak terlalu muluk-muluk, KBM akan mewarnai dunia per-blog-an Indonesia.</p>
Number of View :3995<img src="http://antokoe.com/?ak_action=api_record_view&id=210&type=feed" alt="" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://antokoe.com/ngajak-ngeblog/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>19</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

