Bye-bye Thomas….

Pupus sudah harapan kita untuk merebut Piala Thomas Cup. Secara menyakitkan kita dikalahkan dengan telak oleh Korea Selatan 3 – 0. Terus sebenarnya kita bisa kalah ?. Suporter. Jangan tanya, sampai berantem karena tidak kebagian tiket. Pembinaan. Regenerasi. Atau mental juara kita memang belum setangguh pemain kulit kuning (Cina, Korea) ?.

Akhir-akhir ini memang kita miskin prestasi. Sebenarnya bulutangkis adalah olahraga yang paling cocok dan pas dengan postur orang Indonesia. Prestasi Indonesia dalam bulutangkis juga sudah diakui oleh dunia internasional. Dunia mengenal Indonesia dibidang olahraga juga dari bulutangkis. Regenerasi, Indonesia mempunyai sistem pembibitan melalui klub-klub yang didukung dana yang cukup, seperti Djarum. Terus apa yang salah ?.

[Read more...]

Number of View :1200

Popularity: 2% [?]

Munajah Cinta Sebangun dengan Ayat-Ayat Cinta ?

Aku jadi yakin bahwa LATAH itu hanya ada dan berlaku di Indonesia. Konteks yang aku maksud adalah diMunajah Cinta dunia hiburan. Beberapa bulan lalu (tahun lalu), bioskop bergantian diteror dengan film horor, dan sekarang seperti hantu-hantu sudah mulai putus asa menakut-nakuti penonton, karena sudah tidak takut lagi karena sudah terbiasa.

Pada awal tahun ini, selera pononton mulai berubah. Film komedi mulai mengganti jadwal film horor, diawali dengan komedi satir, seperti Naga Bonar jadi 2, Get Marriage. Muncul varian dari film komedi dengan bumbu seks seperti Quicky Express, Kawin Kontrak, XL dll.

Genre komedi dilibas habis oleh Ayat-Ayat Cinta (AAC). Film ini menjadi terlaris sepanjang masa untuk Indonesia dan aku yakin tidak gampang untuk mengalahkannya dalam waktu dekat. Ibarat dagang, melihat dagangan toko sebelah laris manis, maka toko lain mencoba menjual barang yang sama walau sedikit gambling, kata cukongnya ‘momentum lagi bagus’ maka jangan disia-siakan.

[Read more...]

Number of View :896

Popularity: 6% [?]

Indonesian Idol, Antara Kualitas dan Modal SMS

Jujur aja nih, dari sekian banyak tontonan ajang pencarian bakat di TV kita, aku anggap Indonesian Idol (II) termasuk paling premium. Gak kacangan dan bertele-tele. Dimusim ke-5 ini kualitas kontestan boleh dikata diatas rata-rata dan berkarakter. Tapi II masih mengandalkan vote dari SMS dan telepon untuk menentukan pemenang. Nah….disini pertarungan antara kebintangan kontestan dan kontestan yang didukung pemodal kuat (baca:orang tuanya kaya) dimulai.

Seperti pada babak workshop I dan workshop II (2/5/08) khusus kontestan cewek, sangat terasa pertarungan perolehan dukung dari Voter kerasa banget, dan bisa ditebak, kontestan suara pas-pasan tapi modal untuk SMS kuatlah yang menang. Coba cek, kontestan sekualitas Yuka yang sudah punya jam terbang nyanyi saja kalah dengan kontestan Gisela yang dicela habis-habisan oleh juri dan sepertinya orang tuanya bermodal kuat untuk SMS. Juga Ibeth, kalah sama Safira yang dicela habis-habis oleh juri. Jujur aku jadi mulai ragu dan pasti juri juga pasti kecewa dengan hasil babak workshop II (2/5/08).

[Read more...]

Number of View :1344

Popularity: 5% [?]

Dhani, Musisi Jenius, Attitude Minus

Kalau mendengar nama Ahmad Dhani (AD), ada dua hal yang melekat pada nama itu. Musisi jenius dan Arogansi. Kita mengakui AD musisi jenius, terbukti hampir semua penyanyi yang diproduseri menjadi dikenal orang, mulai dari Reza, Once, Ratu, Dewi-Dewi, Wulansari AKA Mulan Kwok AKA Mulan Jameela dan The Rock.

Arogansi, sangat melekat pada diri AD, lewat pernyataan, sikap dan perbuatan. Sebenarnya sudah basi mengomentari AD, tapi hampir semua pernyataan yang keluar, menjadi headline media gosip, dan AD sangat menyadari hal ini, dan sepertinya sangat menikmatinya. Cuek mungkin senjata AD.

Kisruh rumah tangga dengan istrinya Maia Estianty (ME), juga menjadi sebuah ajang tebar sensasi, dengan saling adu argumen lewat media, padahal kalau mau damai atau bersepakat, bisa ketemu langsung lebih baik, tapi mereka lebih menikmatinya lewat media. Sebenarnya, orang dikenal atau menjadi public figure bisa lewat dua jalan, berprestasi dan membuat sensasi. Tapi AD dan ME seperti kombinasi dari keduanya.

Seperti alasan kenapa AD berkonfrontasi dengan istrinya ME, AD beralasan ME susah diatur dan AD selalu membawa dalil Islam untuk memojokkan ME. Apakah AD termasuk orang (baca: artis) yang religius ?. Aku bilang “gak tau”, temenku bilang “masa sih…?”. AD seperti kejebak sendiri, dulu merestui istrinya nyanyi, dan jadilah penyanyi, meledak dan mengalahkan ketenarannya sendiri dan disitulah awal mulanya.

Yang paling mutakhir adalah somasi pengacara Elsa Syarif, tentang isi sms yang diterimanya dan buat ME sepertinya ada sebuah energi baru untuk melawan AD, dengan banyaknya pengacara yang ada dibelakangnya. AD dan ME sama saja, sama-sama senang dengan sensasi. Tapi kalau ditakar kadar simpati dari hasil sensasi krisuh AD dan ME, seperti ME lebih banyak mendapatkan simpati positif dibanding AD. Di sini posisi ME sebagai sosok teraniaya oleh suaminya.

aku bukan membela ME tapi secara pribadi aku ngefan AD sebagai seorang musisi, tapi sebagai sosok pribadi aku gak ngefan. ME juga seorang musisi hebat, pandai membuat hits, jargon dan trendsetter, tapi sebagai pribadi aku berharap ME instropeksi diri.

Kalau ditulis, disarikan dari media gosip, kelakuan AD panjang daftarnya, tapi itu semua merupakan bagian skenario dari sebuah sensasi. AD dan ME mungkin mulai berpikir siapa dirinya, dan kenapa harus begitu ?. Ah………..EGP (emang gue pikiran)

Number of View :993

Popularity: 2% [?]

Ada Apa dengan Acara TV Indonesia

TV, adalah menjadi bagian dari yang tak terpisahkan dari kehidupan sehari-hari kita. TV adalah hiburan paling murah dan dekat karena disajikan diruang tamu atau ruang keluarga. Semua anggota dapat mengaksesnya termasuk anak kita. Tapi kalau anak kita disuguhi tontonan yang tidak memberikan tuntunan yang baik bagaimana donk. Pindah channel-nya ke TV lain. Masih sama kok (model) acaranya. TV lain gimana. Sama aja. Ya sudah matiian aja TV-nya.

Kesimpulannya, acara TV kita seragam (walau warnanya beda-beda). Pertanyaannya memang SDM stasiun TV itu gak ada yang kreatif? Atau memang kita merupakan bangsa yang latah (katanya sih hanya di Indonesia ada orang latah)?.

Kalau menurutku, pengelola TV itu seperti seorang pedagang, dimana dia hanya menjual barang yang sedang dicari, laris dan dijual kios sebelah. Karena dagangannya kios sebelah laris, maka harus menjual barang dagangan yang sama kalo nggak maka gak dapat duit. Yang celakanya adalah masuk kategori pedagang kaki lima bukan sekelas toko bermerk yang menjual barang dengan kualitas yang baik atau minimal sekelas Factory Outlet. Jadi terkesan seperti pedagang musiman, kalo mau lebaran maka jual barang yang banyak dicari orang untuk berlebaran. Atau pas awal mau masuk sekolah, naka rame-rame jual buku, tas, alat tulis,sepatu, seragam dll (dan lainnya lupa). Setelah masanya habis, mulai melirik toko sebelah, dagangan apa lagi yang laris?.

Sekarang yang menjadi barang dagangan (baca: acara TV) yang laris adalah masih sinetron diperingkat pertama. Ini adalah mesin uang yang paling handal. Tapi coba tengok sinetron kita, pasti ….

  • Striping (tayang tiap hari);
  • Pembuatannya asal jadi, lihat aja sering bocor boomer-nya (mik untuk dialog); pemilihan lokasi dan setting yang asal jadi (nama rumah sakit atau nama kafe dibuat mendadak dengan modal stereoform+cat);
  • Cerita; nah ini yang paling parah. Tip menonton sinetron kita, lihat sinetron sampai episode 10, liat setelah episode ini, kalo masih cerita masuk akal dan tidak membodohi kita, tonton terus. Nanti cek lagi setelah episode 20;
  • Penokohan karakter dalam cerita hampir seragam dan menjual mimpi. Di sinetron kita ORANG BAIK HARUS HIDUP SUSAH, BODOH, LUGU, SENGSARA, MISKIN, DIBOHONGI, DAN …..
  • Perhatikan mata tokoh antagonisnya, pasti melotot dan diberi tambahan efek freeze.
  • Satu TV diisi produksi sinetron dari satu PH. RCTI oleh Sinemart dr jam 6 sore s.d 11 malam. SCTV oleh MD Entertainment di jam yang sama. Indosiar oleh PT. Gentabuana dll. Dari sisi PH ada untungnya karena sinetron mereka gak bersaing dengan sinetron sendiri di TV lain pada jam yang sama.
  • Kalo laris walau ceritanya amburadul maka dipanjang-panjangin episodenya.
  • dll

Yang paling up-to-date adalah teguran kepada Indosiar (Supermama, Mamamia, Stardut) dan TPI (Dangdut Mania) tentang acara pencarian penyanyi oleh Komisi Penyiaran Indonesia (KPI). Ditambah teguran ke host acara Ruben dan Ivan Gunawan. Acara ini sebenarnya bagus tapi menjadi tidak terkendali karena tidak mempunyai konsep yang baku diawalnya, sehingga pada perkembanganya karena menarik maka dibuat improvisasi tapi berlebihan. Bahkan durasinya sampai 7 jam (pertama di dunia dan pelopornya Indosiar).

KPI jangan hanya acara ini saja yang ditegur, tapi PH pembuat sinetron-sinetron juga boleh (harus) ditegur + TV yang menayangkan. Biar sinetron kita maju.

Tapi kalau mau maju acara TV kita, kita sebagai penonton juga harus maju dan kritis jangan mau diberi tontonan sampah artinya kalau dirasa jelex jangan ditonton.

Do you have comment for Indonesian TV program?.

Number of View :2760

Popularity: 10% [?]

Switch to our mobile site