antokoe Mempertegas Garis Diri

who am I ?

Einstein pernah berkata “When I examine myself and my methods of thought, I come to the conclusion that the gift of fantasy has meant more to me than any talent for abstract, positive thinking.” Ternyata fantasi imaginasi lebih berarti daripada kebisaan apapun, selalulah berpikir positif. Berpikir positif, sebuah pola pikir yang mengedepan bahwa semuanya pasti bermakna sesuatu (positif) walaupun itu dari sebuah kondisi yang buruk atau mengandung unsur merugikan kita.

Mungkin pernah mendengar atau membaca pernyataan “Kita dipertemukan, karena pasti ada rencana Tuhan dibalik ini semua” . Dalam konteks bertemu dengan seseorang dan bahkan membangun sebuah hubungan, fokusnya adalah bagaimana pertemuan dan hubungan itu bermakna serta berujung kebahagiaan. Berfokus pada kebahagian itu hakiki, tapi jangan melupakan bahwa semua yang diharapkan kadang tidak sesuai dengan keinginan. Membangun pikiran positif dapat membantu jika bertemu dengan kondisi yang tak terharapkan.

Rencana Tuhan pasti baik, walau diri kita terkadang tidak menerima karena tidak sesuai hati. Terpenting adalah meyakini bahwa Tuhan mempertemukan dengan seseorang karena Tuhan ingin kita belajar dari seseorang tersebut atau dari kondisi yang tercipta selama menjalin hubungan. Dilingkungan pekerjaan bertemu dengan aneka karakter pribadi, dengan pasangan atau pacar memadupadankan dua karakter berbeda dalam usaha mencari persamaan tujuan. Semakin banyak bersentuhan dengan berbagai karakter memperkaya pribadi kita untuk dapat memahami dan berusaha bertindak secara pas sesuai porsinya. Akan terasa tidak bijak jika menuntut orang untuk memahami diri kita sedangkan diri kita tidak paham atau enggan untuk memahami diri sendiri. Kita hidup dalam posisi pararel, setidaknya ada tiga posisi pararel, pertama keberadaan pribadi dan yang memahami pasti diri kita sendiri. Kedua keberadaan pribadi dilingkungan sosial yang menuntut kebijakan diri dalam menempatkan dan berlaku secara pas menurut ukuran sosial. Ketiga keberadaan pribadi dalam lingkungan profesional, yang menuntut berlaku profesional sesuai kemampuan kita. Memadupadankan ketiganya sungguh sulit karena kita lebih mengagungkan diri kita sebagai pribadi yang merasa mampu dan kuat walaupun kenyataannya sangat rapuh. Tidak jarang dalam lingkungan profesional seringkali tercampur dengan kondisi pribadi sehingga parameter profesionalisme tercemari dan terkadang malah mempertegaskan siapa diri kita sebenarnya. Jangan menyombongkan diri kalau punya sifat yang sebenarnya lingkungan kita merasa tidak nyaman dengan sifat itu.

Teringat sebuah perbincangan dengan teman (laki-laki) di YM, “Kok ada ya mas, bangga punya sifat ambegan”. Hanya satu jawaban yang tersampaikan “Harus bangga-lah, gak banyak loh yang punya sifat kek gitu, karena sebagian besar sudah bisa menyesuaikan diri dengan keadaan, jadi semakin sedikit yang punya sifat kek gitu“. Teman itu hanya“ngakak”. Terus teman itu bertanya kembali “Kenapa ya gw susah bener dapet pasangan, giliran ada dan gw cinta eh dia malah mundur teratur?”. Justru pertanyaan balik tersampaikan “Emang lu dah pantes dapet pasangan?“. Teman ini balik bertanya dengan nada kesal. “Maksud lo….!?“. Mencoba menjelaskan. “Begini, memang lu udah memantaskan diri dengan pribadi yang baik terutama kepada calon pasangan lu, terus lu sudah mencoba memberikan kenyamanan kepada calon pasangan lu?. Kata orang dalam membangun sebuah hubungan kenyamanan lah kunci kelangsungan dari hubungan itu.”. Teman termanggut-manggut, dan… “Sudah kok !”. Terus. “Itu menurut lu apa menurut pasangan lu?“. Obrolan terputus karena teman harus melakukan kembali ke pekerjaannya.

 Mempertegas garis diri dalam pararel posisi membutuhkan pengorbanan yang besar, mengubah itu sungguh sulit tapi menyesuaikan adalah tindakan bijak agar semua kondisi masuk dalam kondisi yang pas. Menjadi tua itu pasti tapi menjadi dewasa adalah pilihan. Sudah dulu ah, mau belajar dewasa dulu.


view 256 times.

Have your say

%d bloggers like this: